Langsung ke konten utama

Postingan

Takdir

Aku bersujud di antara doa dan harapan. Hingga gigil malam mengacau fikiran. Resah berkecamuk dalam dada. Sesaat jantung berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Mencoba berdiri dan melangkah, namun tertahan oleh rindu. Ya... Kita dua beda yang menyatu. Meyakinkan jarak dengan hati. Memberanikan batin dalam diri. Percaya garisan takdir tidaklah semu. Hanya sebatas permainan waktu. Abelqiz, 160518

Bunga Tidur Semalam

Aku pernah bermain hati, namun tidak dengan api. Aku pernah menjadi pemburu, namun tidak membunuh. Jatuh, bangun, sakit, serta bahagia pernah kurasa. Namun tidak untuk saat ini.... Merasa bahagia bersamaan dengan sedih. Merasa suka bersamaan dengan duka. Memang semesta sering bercanda. Jika memang ditakdirkan bersama, mengapa ada jarak yang membuat luka? Jika memang hanya sesaat, mengapa teramat manis dirasa? Logika dan cinta itu berbeda, namun jika digabungkan menjadi cerita. Cerita tentang aku dan kamu. Yang menjadi satu namun tak menyatu. ____________________________________________ Kadang rindu terlihat mudah, Tuan. Jikalau kita berpeluk dalam jarak, tidaklah mungkin kita menjauh. Sedetik merasa dekat, detik berikutnya berkata lain. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Memimpikan hadirmu dalam harap. Tak hanya sesaat, namun selamanya. Kemudian terbangun, dan menyadari bahwa cinta hanyalah bunga tidur semalam...

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...

My Little Angel - Part 13 (Cinta Tanpa Jeda)

          "Coba tebak, kenapa Tuhan membiarkan sayapmu patah, dan ngga berfungsi seperti sediakala lagi?" Pangeran Kegelapan berkata sambil menahan senyum. Peri Kecil mengernyit, "Di kutuk kali!"Ucapnya ketus. "Dih gitu." Pangeran Kegelapan tertawa terbahak-bahak. Peri Kecil kesal, perasaannya sedang campur aduk, namun malah di tertawakan seperti itu, "Berisik! Aku mau sendiri, ngga usah ganggu!!". Peri Kecil menghentakkan kakinya. Pangeran Kegelapan menyentuh sayap Peri Kecil dengan lembut, "Tuhan membiarkan sayapmu patah seperti ini, karena Tuhan tau, aku akan menemani gelapmu, kemudian membiarkanmu menikmati dinginnya langit bersamaku." Tanpa meminta persetujuan, Pangeran Kegelapan merengkuh Peri Kecil ke dalam pelukan, kemudian membawanya terbang mengelilingi gelapnya malam.           Peri Kecil terenyuh, amarah yang ia rasakan perlahan mereda, tergantikan oleh hawa dinginnya malam yang kemudian menghangat karena pelukan Pangeran...

Tentang Hati Yang Terluka

Ah... Sudah berapa lama buku ini tertutup? Bukan karena tidak ingin membukanya lagi. Namun terlalu banyak keindahan yang tertuang dalam kehidupan di dunia fana. Lalu, mengapa sekarang engkau buka kembali? Ya... Karena kefanaan hanyalah sementara. Tidak ada yang kekal dan abadi. Sebentar saja aku larut dalam kebahagiaan, yang seharusnya aku tau, semuanya hanyalah sementara. Karena yang selamanya hanya Allah SWT bukan? Sejauh apa aku melangkah dalam kesesatan, sejauh apa aku berenang dalam keabadian sesaat, sekali lagi, Allah tidak pernah tidur. Dia melihat apa yang tidak kita lihat. Mendengar apa yang tidak kita dengar. Dan merasakan apa yang belum kita rasakan. Sesempurna itu... Namun akupun masih lalai untuk selalu bersujud di hadapan-Nya. Aku berkata, aku tak mampu hidup tanpa-Nya. Dan Ia membenarkan hal itu. Membenarkan bahwa aku tersesat terlalu jauh selama ini. Menarikku kembali ke jalan-Nya, menarik kembali peri kecil yang terluka beberapa tahun yang lalu. Yang tak pe...

Sendiri (Hanya Tangis)

Peri kecil membuka buku harian yang telah usang termakan usia. Sudah lama ia tidak mencurahkan apa yang dirasakan. Terlalu banyak hal yang absurd, yang sulit untuk di ungkapkan, bahkan sekedar lewat tulisan. Pensil ditangannya hanya ia mainkan saja,tapi tetap tidak mencoretkan apapun dikertas berdebu itu. Banyak hal yang terjadi, dari bahagia, sampai yang menyayat hati, namun tetap... semuanya tak dapat terucapkan. 'Brakk!' Peri kecil melempar buku hariannya keluar jendela. "Bercerita dengan benda mati saja aku tak mampu." Ia tertawa sinis. Perlahan ia berjalan menjauh dari cahaya sore itu. Mendekati gelap yang selalu menemani harinya. Seperti tak bertulang, ia terjerembab di sudut ruang gelap kamarnya. Menelungkup pasrah, tanpa ingin menatap apapun disekelilingnya. "Aku memang hanya sendiri. Sendiri. Tanpa siapa pun menemani. Hanya Tuhan, dan sayap patahku." Dalam diam, air mata menetes perlahan. Menghiasi pipi mungil peri kecil. Menemani setiap...

My Little Angel - Part 12 (Sayap Sayap Patah)

     "Ha? Semuanya masih kamu simpen? Suara kayak kaleng rombeng gitu. Astagaa. Apus ngga?!" Sekuat tenaga aku mencoba merampas ponsel pintar yang sedang dia mainkan di depanku. Bukannya kabur, dia malah menarik tubuhku dan memelukku erat.        "Suara kaleng rombengmu ini buat nemenin aku tidur. Udah jangan bawel." Kecupan sayang mendarat di bibirku. Aku terpaku. Tak bisa berkata lagi selain merengek manja.          Ya seperti itulah yang sering terjadi setiap ada perdebatan anatara aku dan dia. Diakhiri dengan pelukan, kecupan, atau bahkan disaat aku lagi marah-marah, tanpa banyak bicara dia hanya memelukku. Lalu mengusap manja puncak kepalaku. Manis. meskipun banyak perbedaan, namun sikapnya yang tak pernah menentang yang mampu membuatku meleleh. Bertekuk lutut oleh cintanya. ***       "Kamu ngga mau punya kekasih yang sempurna? Aku bahkan tak memiliki sayap seperti peri lainnya." Ucapku tempo hari s...