Langsung ke konten utama

My Little Angel - Part 12 (Sayap Sayap Patah)

     "Ha? Semuanya masih kamu simpen? Suara kayak kaleng rombeng gitu. Astagaa. Apus ngga?!" Sekuat tenaga aku mencoba merampas ponsel pintar yang sedang dia mainkan di depanku. Bukannya kabur, dia malah menarik tubuhku dan memelukku erat.
       "Suara kaleng rombengmu ini buat nemenin aku tidur. Udah jangan bawel." Kecupan sayang mendarat di bibirku. Aku terpaku. Tak bisa berkata lagi selain merengek manja.
         Ya seperti itulah yang sering terjadi setiap ada perdebatan anatara aku dan dia. Diakhiri dengan pelukan, kecupan, atau bahkan disaat aku lagi marah-marah, tanpa banyak bicara dia hanya memelukku. Lalu mengusap manja puncak kepalaku. Manis. meskipun banyak perbedaan, namun sikapnya yang tak pernah menentang yang mampu membuatku meleleh. Bertekuk lutut oleh cintanya.
***
      "Kamu ngga mau punya kekasih yang sempurna? Aku bahkan tak memiliki sayap seperti peri lainnya." Ucapku tempo hari saat sedang bersamanya.
       "Kamu jalan kaki aja, jangan punya sayap. Nanti ngga kurus-kurus. Lagian kalau kamu punya sayap, dikejarnya susah. Ngga pake sayap aja kabur-kaburan terus." Dia tertawa terbahak-bahak.
         Lagi. Tak pernah menjawab dengan serius. Namun aku suka dengan jawabannya. Kalau sudah seperti itu, aku hanya bisa mengerucutkan bibirku.
        Perlahan tangannya mengelus puncak kepalaku. Aku menyukai hal itu. Menjadikanku merasa yang amat dia sayangi bahkan ia jaga. "Aku ngga butuh peri sempurna. Yang aku butuh hanya peri yang mampu menyempurnakan hidupku tanpa kesempurnaan." Tatapan matanya tepat di bola mataku. Senyumnya, membuatku menjadi peri yang paling bahagia memilikinya. Pangeran kegelapan.
***
         Kesedihanku takkan pernah terhapuskan. Untaian air mata dan perih yang menyayat hati akan terus menghantui hidupku. Pangeranku telah musnah. Hancur memperjuangkan hidupku. Hancur menjagaku agar tetap utuh. Mengorbankan dirinya tanpa aku ketahui. Tak ada lagi canda tawa. Tak ada lagi peluk, kecup, dan usapan sayang. Aku sendiri. Merapal doa. Merintih perih. Sendiri.
***

Sayap-Sayap Patah

Dewa 19

Sayangku, ku mohon tetap disini.
Temani jasadku yang belum mati.
Rohku melayang, tak kembali, bila kau pun pergi.
meninggalkan yang terbaik, bagi kita semua.

Ku coba kembangkan sayap patahku,
Tuk terbang tinggi lagi diangkasa,
Melayang melukis langit merangkai awan awan mendung.

***

Sayap-Sayap Patah

Kahlil Gibran

Kini aku merasa bagaikan seekor burung lepas-bebas yang menyaksikan keindahan ladang-ladang dan padang-padang rumput, dan mengharap terbang di langit yang lapang untuk mendapatkan rasa kasih, angan-angan, dan harapan pada alam.

Kesendirian memiliki tangan-tangan sutera yang lembut, namun dengan jari-jarinya yang perkasa, ia meremas jantung dan membuatnya menderita karena duka.

Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta itu membangkitkan semangat yang hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalanannya.

Kata-kata itu adalah suatu nyanyian surgawi yang berawal dari pujian dan berakhir dengan kesedihan, kata-kata itu mengangkat jiwa-jiwa kami ke kerajaan cahaya dan bara api yang menyala, kata-kata itu adalah piala yang darinya kami meminum kebahagiaan dan kepahitan.


-A- 291014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...