"Ha? Semuanya masih kamu simpen? Suara kayak kaleng rombeng gitu. Astagaa. Apus ngga?!" Sekuat tenaga aku mencoba merampas ponsel pintar yang sedang dia mainkan di depanku. Bukannya kabur, dia malah menarik tubuhku dan memelukku erat.
"Suara kaleng rombengmu ini buat nemenin aku tidur. Udah jangan bawel." Kecupan sayang mendarat di bibirku. Aku terpaku. Tak bisa berkata lagi selain merengek manja.
Ya seperti itulah yang sering terjadi setiap ada perdebatan anatara aku dan dia. Diakhiri dengan pelukan, kecupan, atau bahkan disaat aku lagi marah-marah, tanpa banyak bicara dia hanya memelukku. Lalu mengusap manja puncak kepalaku. Manis. meskipun banyak perbedaan, namun sikapnya yang tak pernah menentang yang mampu membuatku meleleh. Bertekuk lutut oleh cintanya.
***
"Kamu ngga mau punya kekasih yang sempurna? Aku bahkan tak memiliki sayap seperti peri lainnya." Ucapku tempo hari saat sedang bersamanya.
"Kamu jalan kaki aja, jangan punya sayap. Nanti ngga kurus-kurus. Lagian kalau kamu punya sayap, dikejarnya susah. Ngga pake sayap aja kabur-kaburan terus." Dia tertawa terbahak-bahak.
Lagi. Tak pernah menjawab dengan serius. Namun aku suka dengan jawabannya. Kalau sudah seperti itu, aku hanya bisa mengerucutkan bibirku.
Perlahan tangannya mengelus puncak kepalaku. Aku menyukai hal itu. Menjadikanku merasa yang amat dia sayangi bahkan ia jaga. "Aku ngga butuh peri sempurna. Yang aku butuh hanya peri yang mampu menyempurnakan hidupku tanpa kesempurnaan." Tatapan matanya tepat di bola mataku. Senyumnya, membuatku menjadi peri yang paling bahagia memilikinya. Pangeran kegelapan.
***
Kesedihanku takkan pernah terhapuskan. Untaian air mata dan perih yang menyayat hati akan terus menghantui hidupku. Pangeranku telah musnah. Hancur memperjuangkan hidupku. Hancur menjagaku agar tetap utuh. Mengorbankan dirinya tanpa aku ketahui. Tak ada lagi canda tawa. Tak ada lagi peluk, kecup, dan usapan sayang. Aku sendiri. Merapal doa. Merintih perih. Sendiri.
***
Sayap-Sayap Patah
Dewa 19
Sayangku, ku mohon tetap disini.
Temani jasadku yang belum mati.
Rohku melayang, tak kembali, bila kau pun pergi.
meninggalkan yang terbaik, bagi kita semua.
Ku coba kembangkan sayap patahku,
Tuk terbang tinggi lagi diangkasa,
Melayang melukis langit merangkai awan awan mendung.
***
Sayap-Sayap Patah
Kahlil Gibran
Kini aku merasa bagaikan seekor burung lepas-bebas yang menyaksikan keindahan ladang-ladang dan padang-padang rumput, dan mengharap terbang di langit yang lapang untuk mendapatkan rasa kasih, angan-angan, dan harapan pada alam.
Kesendirian memiliki tangan-tangan sutera yang lembut, namun dengan jari-jarinya yang perkasa, ia meremas jantung dan membuatnya menderita karena duka.
Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta itu membangkitkan semangat yang hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalanannya.
Kata-kata itu adalah suatu nyanyian surgawi yang berawal dari pujian dan berakhir dengan kesedihan, kata-kata itu mengangkat jiwa-jiwa kami ke kerajaan cahaya dan bara api yang menyala, kata-kata itu adalah piala yang darinya kami meminum kebahagiaan dan kepahitan.
-A- 291014
Komentar
Posting Komentar