Mengerti yang perlu dimengerti.
Memahami yang perlu dipahami.
Pengulangan yang berulang.
Terkadang kata yang terucap dalam diam, membakar logika.
Membangkitkan amarah dan mengguncang emosi.
Bernyanyi dalam sendu, tertawa dalam duka.
~ abelqiz ~
_________________________________________________________________________________
Beberapa kali bercermin pada cermin yang sama. Langkah kaki kecil dibelakang pun masih terdengar. Pelan. Hati-hati. Sosok mungil tersenyum di balik punggungku. Tepat disana. Senyum manis bercampur sakit terlukis sempurna. Peri kecil itu, membayangi hidupku setiap saat. Menertawakan bahagia yang terlintas sekilas dalam tidurku. Mimpi yang sama. Terus menerus menghantuiku.
Peri kecil itu tidak pernah mendekat. Hanya sekedar menatap. Namun aku tau. Dia ingin bebas. Mengurungnya dalam sisi tergelap di hidupku. Menahannya untuk tidak pernah berinteraksi dengan dunia. Karena dia peri kecil terbaik yang aku punya. Sahabat berbagi dalam berbagai kondisi. Yang sedia menghapus bulir air mata yang sering menetes tanpa henti dalam gelap malam. Namun sekarang ia mulai berontak. Menghantui tiap detik lelap malamku. Mencoba berkata, 'Aku akan kembali dan selalu bersamamu'. Namun aku takut. Aku takut melangkah sendiri tanpanya.
Aku merenung. Mengamati setiap detail sisi kehidupanku. Banyak ketakutan yang tak bisa terucap. Bahkan terungkap. Peri kecil mencoba menghiburku, membiarkanku menyendiri, tanpa ingin diganggu oleh manusia lainnya. Hanya sendiri.
Kembali peri kecil berontak dari sisi tergelapku. Ingin rasanya aku membunuhnya, dan menyiramkan air keras sehingga ia tidak bisa kemana-mana. Tetap menjadi sahabatku. Hanya menjadi milikku. Satu-satunya sahabat yang mau mengerti diriku. Namun wajah mungilnya membuatku terlena dan tak mampu melakukan hal keji tersebut. Dia yang selalu berkata aku wanita hebat, aku wanita kuat, dan aku mampu menghadapi kejamnya dunia sendiri. Tapi aku tau, hati ini mulai rapuh. Sehingga tak mampu mengekang peri kecil tetap di dalam sana dan mencoba memberikan kesempatan untuknya menikmati dunia.
'Dunia ini kejam, Bel. Jangan pernah memberikan celah untuk mereka mengolokmu.'
'Aku lelah, aku menyerah.'
'Belum waktumu untuk menjadi sepertiku. Nikmatilah. Nanti pun kamu akan memahami arti hidupmu dengan sendirinya.'
Kata-kata itu berulang kali ia ucapkan. Namun tetap saja. Aku lemah. Tepatnya mulai melemah. Dan di malam itu, aku pun meratapi perih yang tersayat perlahan tepat di relung hatiku. Menahan air mata yang terus mengalir walau tak pernah aku izinkan untuk menetes. Bersujud dipangkuannya. Dan membiarkan peri kecil menina-bobokan diriku sampai aku terlelap.
-A- 221014
Komentar
Posting Komentar