Ah... Sudah berapa lama buku ini tertutup? Bukan karena tidak ingin membukanya lagi. Namun terlalu banyak keindahan yang tertuang dalam kehidupan di dunia fana.
Lalu, mengapa sekarang engkau buka kembali?
Ya... Karena kefanaan hanyalah sementara. Tidak ada yang kekal dan abadi.
Sebentar saja aku larut dalam kebahagiaan, yang seharusnya aku tau, semuanya hanyalah sementara.
Karena yang selamanya hanya Allah SWT bukan?
Sejauh apa aku melangkah dalam kesesatan, sejauh apa aku berenang dalam keabadian sesaat, sekali lagi, Allah tidak pernah tidur. Dia melihat apa yang tidak kita lihat. Mendengar apa yang tidak kita dengar. Dan merasakan apa yang belum kita rasakan.
Sesempurna itu... Namun akupun masih lalai untuk selalu bersujud di hadapan-Nya.
Aku berkata, aku tak mampu hidup tanpa-Nya. Dan Ia membenarkan hal itu.
Membenarkan bahwa aku tersesat terlalu jauh selama ini.
Menarikku kembali ke jalan-Nya, menarik kembali peri kecil yang terluka beberapa tahun yang lalu.
Yang tak pernah percaya akan cinta selain uluran cinta-Nya.
Begitu indah teguran-Mu... Begitu indah pelukan-Mu.
Luka yang tergores dan hampir menutup sempurna, terbuka kembali lebih lebar dari sebelumnya.
Kemudian Engkau mengulurkan tangan-Mu dan merengkuhku erat.
Aku tenang...
Tangis serta amarah yang kurasakan perlahan hilang, terurai oleh khidmat do'a yang aku lantunkan tanpa jeda.
Perih... Ya memang tidak ada yang bisa menghilangkan rasa perih akibat pengkhianatan.
Sepertiku yang berkhianat dari cinta-Nya.
Berharap pada manusia, yang bukanlah suatu apapun di mata Allah SWT.
Aku salah menyerahkan hati terhadap manusia.
Aku salah bertekuk lutut untuk manusia.
Karena Engkau lah sang Maha pembolak-balik hati.
Kini aku tersenyum, lukaku sirna, hilang.
Sayap-sayap patahku tak akan pernah menyatu. Tak akan pernah kembali seperti awal aku berdiri.
Goresan luka tak akan pernah menutup. Namun aku mengerti, cinta yang bukan untuk-Nya, memang akan hilang tanpa jejak.
Semudah Malaikat Izrail mencabut nyawa.
-A- 090318
Lalu, mengapa sekarang engkau buka kembali?
Ya... Karena kefanaan hanyalah sementara. Tidak ada yang kekal dan abadi.
Sebentar saja aku larut dalam kebahagiaan, yang seharusnya aku tau, semuanya hanyalah sementara.
Karena yang selamanya hanya Allah SWT bukan?
Sejauh apa aku melangkah dalam kesesatan, sejauh apa aku berenang dalam keabadian sesaat, sekali lagi, Allah tidak pernah tidur. Dia melihat apa yang tidak kita lihat. Mendengar apa yang tidak kita dengar. Dan merasakan apa yang belum kita rasakan.
Sesempurna itu... Namun akupun masih lalai untuk selalu bersujud di hadapan-Nya.
Aku berkata, aku tak mampu hidup tanpa-Nya. Dan Ia membenarkan hal itu.
Membenarkan bahwa aku tersesat terlalu jauh selama ini.
Menarikku kembali ke jalan-Nya, menarik kembali peri kecil yang terluka beberapa tahun yang lalu.
Yang tak pernah percaya akan cinta selain uluran cinta-Nya.
Begitu indah teguran-Mu... Begitu indah pelukan-Mu.
Luka yang tergores dan hampir menutup sempurna, terbuka kembali lebih lebar dari sebelumnya.
Kemudian Engkau mengulurkan tangan-Mu dan merengkuhku erat.
Aku tenang...
Tangis serta amarah yang kurasakan perlahan hilang, terurai oleh khidmat do'a yang aku lantunkan tanpa jeda.
Perih... Ya memang tidak ada yang bisa menghilangkan rasa perih akibat pengkhianatan.
Sepertiku yang berkhianat dari cinta-Nya.
Berharap pada manusia, yang bukanlah suatu apapun di mata Allah SWT.
Aku salah menyerahkan hati terhadap manusia.
Aku salah bertekuk lutut untuk manusia.
Karena Engkau lah sang Maha pembolak-balik hati.
Kini aku tersenyum, lukaku sirna, hilang.
Sayap-sayap patahku tak akan pernah menyatu. Tak akan pernah kembali seperti awal aku berdiri.
Goresan luka tak akan pernah menutup. Namun aku mengerti, cinta yang bukan untuk-Nya, memang akan hilang tanpa jejak.
Semudah Malaikat Izrail mencabut nyawa.
Karena luka ini engkau yang goreskan, Tuan. Terlalu dalam memang, menyakitkan, namun nikmat. Terima kasih tanpa henti aku ucapkan, untuk semua pembelajaran yang kau berikan. Bahwa cinta hanyalah sebuah pengkhianatan.
-A- 090318
Komentar
Posting Komentar