Langsung ke konten utama

Tentang Hati Yang Terluka

Ah... Sudah berapa lama buku ini tertutup? Bukan karena tidak ingin membukanya lagi. Namun terlalu banyak keindahan yang tertuang dalam kehidupan di dunia fana.
Lalu, mengapa sekarang engkau buka kembali?
Ya... Karena kefanaan hanyalah sementara. Tidak ada yang kekal dan abadi.

Sebentar saja aku larut dalam kebahagiaan, yang seharusnya aku tau, semuanya hanyalah sementara.
Karena yang selamanya hanya Allah SWT bukan?
Sejauh apa aku melangkah dalam kesesatan, sejauh apa aku berenang dalam keabadian sesaat, sekali lagi, Allah tidak pernah tidur. Dia melihat apa yang tidak kita lihat. Mendengar apa yang tidak kita dengar. Dan merasakan apa yang belum kita rasakan.
Sesempurna itu... Namun akupun masih lalai untuk selalu bersujud di hadapan-Nya.

Aku berkata, aku tak mampu hidup tanpa-Nya. Dan Ia membenarkan hal itu.
Membenarkan bahwa aku tersesat terlalu jauh selama ini.
Menarikku kembali ke jalan-Nya, menarik kembali peri kecil yang terluka beberapa tahun yang lalu.
Yang tak pernah percaya akan cinta selain uluran cinta-Nya.
Begitu indah teguran-Mu... Begitu indah pelukan-Mu.
Luka yang tergores dan hampir menutup sempurna, terbuka kembali lebih lebar dari sebelumnya.
Kemudian Engkau mengulurkan tangan-Mu dan merengkuhku erat.

Aku tenang...

Tangis serta amarah yang kurasakan perlahan hilang, terurai oleh khidmat do'a yang aku lantunkan tanpa jeda.
Perih... Ya memang tidak ada yang bisa menghilangkan rasa perih akibat pengkhianatan.
Sepertiku yang berkhianat dari cinta-Nya.
Berharap pada manusia, yang bukanlah suatu apapun di mata Allah SWT.

Aku salah menyerahkan hati terhadap manusia.
Aku salah bertekuk lutut untuk manusia.
Karena Engkau lah sang Maha pembolak-balik hati.

Kini aku tersenyum, lukaku sirna, hilang.
Sayap-sayap patahku tak akan pernah menyatu. Tak akan pernah kembali seperti awal aku berdiri.
Goresan luka tak akan pernah menutup. Namun aku mengerti, cinta yang bukan untuk-Nya, memang akan hilang tanpa jejak.
Semudah Malaikat Izrail mencabut nyawa.



Karena luka ini engkau yang goreskan, Tuan. Terlalu dalam memang, menyakitkan, namun nikmat. Terima kasih tanpa henti aku ucapkan, untuk semua pembelajaran yang kau berikan. Bahwa cinta hanyalah sebuah pengkhianatan.


-A- 090318

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...