"Setidaknya, aku masih berjalan tanpa kaki orang lain. Berdiri tegak tanpa goyah." Ucap peri kecil pada Pangeran Kegelapan. Pangeran Kegelapan tersenyum pahit, "Bukan berarti tak ada yang menatap miris terhadapmu, Puan. Hanya saja mereka memaksa untuk merunduk ketika engkau berlalu." Ya... terbang dengan sebelah sayap yang tak lagi utuh, bukanlah pilihan mudah. Namun seperti itulah aku mencoba bertahan. Menatap orang-orang yang lalu lalang, seolah tak memperhatikan gerakku, namun ternyata berbisik nyinyir di belakang. Setidaknya, aku akan buktikan bahwa aku mampu terus bergerak, walau perih kurasa. Tanpa menjadi benalu pada pepohonan tinggi. Sepenting itukah sayap untuk mereka? Tak ada yang sempurna. Setiap makhluk lahir dengan cacatnya sendiri. Pantaskah kita membahas kekurangan mereka? Sudahlah, biar Tuhan yang membalas apa yang tidak diketahui pun yang kuketahui. Mungkin memang pelar...