Langsung ke konten utama

Berdiri Tanpa Kaki

     "Setidaknya, aku masih berjalan tanpa kaki orang lain. Berdiri tegak tanpa goyah." Ucap peri kecil pada Pangeran Kegelapan. Pangeran Kegelapan tersenyum pahit, "Bukan berarti tak ada yang menatap miris terhadapmu, Puan. Hanya saja mereka memaksa untuk merunduk ketika engkau berlalu."

     Ya... terbang dengan sebelah sayap yang tak lagi utuh, bukanlah pilihan mudah. Namun seperti itulah aku mencoba bertahan. Menatap orang-orang yang lalu lalang, seolah tak memperhatikan gerakku, namun ternyata berbisik nyinyir di belakang. Setidaknya, aku akan buktikan bahwa aku mampu terus bergerak, walau perih kurasa. Tanpa menjadi benalu pada pepohonan tinggi.

     Sepenting itukah sayap untuk mereka?
  Tak ada yang sempurna. Setiap makhluk lahir dengan cacatnya sendiri. Pantaskah kita membahas kekurangan mereka? Sudahlah, biar Tuhan yang membalas apa yang tidak diketahui pun yang kuketahui.

     Mungkin memang pelarian terbaik adalah bersembunyi dalam diri....


______________________________________________________________

"Jikalau rapuh tidak terlihat, perih telah terabaikan, setidaknya tak satu pun yang berhak menghantui hidupmu dengan penyesalan. Bahagia bukan hal yang perlu ditunjukkan, namun dirasakan. Mereka yang berbisik di belakang, tak perlu kau lihat. Mereka yang berteriak di depan, tak perlu kau dengar. Karena sebaik-baiknya hati, hanya perlu menikmati pencapaian diri."
~ abelqiz, 120619

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Tafsir Hidup

Yang dianggap baik sudah menjadi abu. Terabaikan, kemudian menjadi pilu. Sekejap, takdir berkata "tidak". Anggaplah pelajaran yang tak berujung. Tenang saja... Ini bukan prolog atau epilog hidup. Hanya sebuah petualangan, yang harus terus ditafsirkan. Terimakasih diri, tetap tangguh terus bertahan. _________________________________________________________________________ Kepada kamu yang sedang memperbaiki diri, tak ada yang lebih baik selain memahami bahwa : Cukup bersyukur kepada siapa yang membuat tersenyum. Karena kejujuran tak terletak pada kebaikan, namun keberanian untuk mengungkapkan.                                                                                                         abelqiz - 250120  

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920