Langsung ke konten utama

Delusi

Tuan, bukankah engkau bisa mengiringi langkahku dengan do'a?
Karena setiap aku meraba mimpi, hanya hampa yang ku dapat.

Diam aku berjalan, selamanya menjadi tanya untukmu.
Bukan perihal ego yang tinggi, ini perkara hati yang hancur.
Yang tak dapat terobati dengan kata.
Asa dalam dada pun terbungkus luka, berpita emosi, bersarang sepi.
Hingga cinta tak mampu lagi menyentuh hati, atau sekedar hinggap untuk menyapa.

Pilu....

Bagai fatamorgana, hidup hanya sekedar kiasan.
Bukan pilihan, pulang adalah akhir dari semua tujuan.



_____________________________________________________________________

"Katamu... hidup akan menjadi sederhana, karena takkan pernah kau janjikan apapun. Namun, lisan tak pernah berdampingan dengan realita. Berdiri di batas nalar diri, mencoba peruntungan hidup dengan meraba masa depan bukanlah keahlianku, Tuan.... Jadikanlah ilusi menjadi nyata, agar tidak tercipta delusi. Karena berdiri tanpa penopang, hanya akan mengaburkan jarak pandang. Biarkanlah hidup tanpa batas, tanpa angan-angan."
~ abelqiz, 170519 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Tafsir Hidup

Yang dianggap baik sudah menjadi abu. Terabaikan, kemudian menjadi pilu. Sekejap, takdir berkata "tidak". Anggaplah pelajaran yang tak berujung. Tenang saja... Ini bukan prolog atau epilog hidup. Hanya sebuah petualangan, yang harus terus ditafsirkan. Terimakasih diri, tetap tangguh terus bertahan. _________________________________________________________________________ Kepada kamu yang sedang memperbaiki diri, tak ada yang lebih baik selain memahami bahwa : Cukup bersyukur kepada siapa yang membuat tersenyum. Karena kejujuran tak terletak pada kebaikan, namun keberanian untuk mengungkapkan.                                                                                                         abelqiz - 250120  

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920