Tuan, bukankah engkau bisa mengiringi langkahku dengan do'a?
Karena setiap aku meraba mimpi, hanya hampa yang ku dapat.
Diam aku berjalan, selamanya menjadi tanya untukmu.
Bukan perihal ego yang tinggi, ini perkara hati yang hancur.
Yang tak dapat terobati dengan kata.
Asa dalam dada pun terbungkus luka, berpita emosi, bersarang sepi.
Pilu....
Bagai fatamorgana, hidup hanya sekedar kiasan.
Bukan pilihan, pulang adalah akhir dari semua tujuan.
_____________________________________________________________________
Karena setiap aku meraba mimpi, hanya hampa yang ku dapat.
Diam aku berjalan, selamanya menjadi tanya untukmu.
Bukan perihal ego yang tinggi, ini perkara hati yang hancur.
Yang tak dapat terobati dengan kata.
Asa dalam dada pun terbungkus luka, berpita emosi, bersarang sepi.
Hingga cinta tak mampu lagi menyentuh hati, atau sekedar hinggap untuk menyapa.
Pilu....
Bagai fatamorgana, hidup hanya sekedar kiasan.
Bukan pilihan, pulang adalah akhir dari semua tujuan.
_____________________________________________________________________
"Katamu... hidup akan menjadi sederhana, karena takkan pernah kau janjikan apapun. Namun, lisan tak pernah berdampingan dengan realita. Berdiri di batas nalar diri, mencoba peruntungan hidup dengan meraba masa depan bukanlah keahlianku, Tuan.... Jadikanlah ilusi menjadi nyata, agar tidak tercipta delusi. Karena berdiri tanpa penopang, hanya akan mengaburkan jarak pandang. Biarkanlah hidup tanpa batas, tanpa angan-angan."
~ abelqiz, 170519
Komentar
Posting Komentar