Langsung ke konten utama

Mentari Pagi Ini

     Peri kecil berdiri di ujung tebing, menunggu mentari yang mulai muncul perlahan. Perasaannya tenang, layaknya ombak di lautan pagi ini. Buliran air mata berganti dengan senyum yang terukir tidak hanya di paras mungilnya, namun juga hati. Peri kecil bersimpuh dan memejamkan matanya.

Peri Kecil : "Dengan nama Allah, bimbing hatiku hanya untuk satu nama yang KAU inginkan. Beri aku cara terbaik untuk mendapatkan kebahagiaanku. Karena KAU sang maha pembolak balik hati, yang tahu segalanya yang aku tidak pernah tahu."

     Tanpa Peri Kecil sadari, Pangeran Kegelapan berada tepat di belakangnya, memperhatikannya sejak awal ia berdoa. Pangeran Kegelapan menepuk pelan pundaknya. Peri kecil terkejut, Pangeran Kegelapan mendekatkan bibir ke telinganya, kemudian berbisik,

Pangeran Kegelapan : "Nafasku selalu berhenti setiap kali mendengar detik jam yang bergeser. Sebab kau merajut rindu di dalamnya. Bersamaan degup jantungku. Kubiarkan kau mengalir bersama darah, hingga nadiku tak berdetak lagi. Aku tak sabar menanti mentari ini, mentari pagi yang begitu indah. Ketika orang-orang begitu sibuk dengan rutinitasnya, diiringi dengan derap sepatu yang berbunyi, hari dimana kita mengikrarkannya. Kemudian, aku masih menunggu mentari yang lain, saat aku dan kau menikmati hangat sinarnya di sudut tempat tidur, berpegangan erat, dan saling menatap penuh cinta. Bahagia kita berjalan keluar pintu memakai tongkat. Melihat anak cucu bersenda gurau di teras rumah."

Peri Kecil : "Bagaimana bisa kau merajut mimpi bersama hati yang tak lagi utuh?"

Pangeran Kegelapan : "Karena aku mencintaimu meski tau kita tak bisa bersama."

     Peri Kecil terdiam, ingin rasanya ia menangis. Menangis bahagia. Namun ia tak ingin menunjukkan dihadapan Pangeran Kegelapan. Peri Kecil sadar satu hal, jika hatinya terbuka, maka akan hancur lebih dari sebelumnya.

Pangeran Kegelapan : "Kau hadir membawa secercah cahaya dalam gelapku. Yang tak mampu aku hindari, karena cahaya itu, aku bisa melihat dunia lebih jelas. Tenanglah... Tidak akan pernah ada paksaan agar kau bisa menerima cinta, namun di sepanjang jalanku, sudah kubangun gerbang. Dan hanya seseorang yang dapat membukanya. Kau..."

Peri Kecil : "Percayalah, pertemuan kita, bukan kesengajaan. Aku mencintaimu, itu sudah cukup. Namun untuk bersama, banyak tembok yang harus kita lalui, rasa sakit, kecewa, tangis, dan masih banyak lainnya. Karena cinta merupakan gerbang menuju kesakitan. Tidak cukupkah semua ini untukmu? Sekarang cahayanya telah padam. Kan kubuka tirai agar kau tetap bisa melihat dunia dalam gelapmu."

     Peri kecil berjalan mundur, menjauh dari hadapan Pangeran Kegelapan. Sebelum benar-benar hilang, Pangeran Kegelapan berteriak dengan lantang,

Pangeran Kegelapan : "Serahkan semuanya kepada Sang Pencipta! Dalam kisah ini, kita harus tetap sadar, bahwa Tuhan menguji kesetiaan kau dan aku. Apakah lebih mencintai ciptaan-Nya atau sebaliknya. Lukamu, sembuhkanlah. Namun ketika sudah membaik, ingat sosok yang selalu membantumu tertawa dan berdo'a diantara subuh dan terbitnya mentari. Bersimpuh hingga lukamu tertutup kembali."

__________________________________________________________________



Aku mencintainya, Tuhan. Tak perlu serumit ini. Biarkan ia memintal jemari bersamaku. Satu arah. Tanpa asa. Karena hangat peluknya seperti nafas. Permudahlah, Tuhan.
                                                                                                                 - abelqiz 290918 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Tafsir Hidup

Yang dianggap baik sudah menjadi abu. Terabaikan, kemudian menjadi pilu. Sekejap, takdir berkata "tidak". Anggaplah pelajaran yang tak berujung. Tenang saja... Ini bukan prolog atau epilog hidup. Hanya sebuah petualangan, yang harus terus ditafsirkan. Terimakasih diri, tetap tangguh terus bertahan. _________________________________________________________________________ Kepada kamu yang sedang memperbaiki diri, tak ada yang lebih baik selain memahami bahwa : Cukup bersyukur kepada siapa yang membuat tersenyum. Karena kejujuran tak terletak pada kebaikan, namun keberanian untuk mengungkapkan.                                                                                                         abelqiz - 250120  

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920