Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Mentari Pagi Ini

     Peri kecil berdiri di ujung tebing, menunggu mentari yang mulai muncul perlahan. Perasaannya tenang, layaknya ombak di lautan pagi ini. Buliran air mata berganti dengan senyum yang terukir tidak hanya di paras mungilnya, namun juga hati. Peri kecil bersimpuh dan memejamkan matanya. Peri Kecil : "Dengan nama Allah, bimbing hatiku hanya untuk satu nama yang KAU inginkan. Beri aku cara terbaik untuk mendapatkan kebahagiaanku. Karena KAU sang maha pembolak balik hati, yang tahu segalanya yang aku tidak pernah tahu."      Tanpa Peri Kecil sadari, Pangeran Kegelapan berada tepat di belakangnya, memperhatikannya sejak awal ia berdoa. Pangeran Kegelapan menepuk pelan pundaknya. Peri kecil terkejut, Pangeran Kegelapan mendekatkan bibir ke telinganya, kemudian berbisik, Pangeran Kegelapan : "Nafasku selalu berhenti setiap kali mendengar detik jam yang bergeser. Sebab kau merajut rindu di dalamnya. Bersamaan degup jantungku. Kubiarkan kau mengalir bersa...

Koper Cintaku - Part 2

Tuan... Ketika kita saling sapa, kemudian menjadi cinta tanpa luka. Banyak harap dan do'a yang kita lantunkan kepada Sang Pencipta. Tawa, canda, tangis, serta amarah memenuhi hari yang pernah kita lalui. Begitu sempurna sampai kita lalai bahwa ada jurang yang terbuka. Antara kita tak pernah bisa menyatu, hanya bertemu. Pertemuan yang mengajarkan kita, bahwa aku memiliki hatimu, namun bukan ragamu. Tuan... Do'aku tak pernah salah, akan selalu kubacakan disetiap sujudku, untukmu, atas izin Tuhan. Dan terima kasih atas semua ketulusan, kesabaran, serta keikhlasanmu. Bahwa mencintaimu memang bukan untuk memiliki. Aku mencintaimu... sungguh... tanpa kepalsuan serta kepura-puraan. Namun Tuhan lebih menyayangimu dibandingkan denganku. Tuan... ini bukan perpisahan.... Ku ucap syukur atas pertemuan, sayang, serta cinta yang kita tanamkan jauh di dalam hati terdalam. Hati ini terasa lemah, sunyi, dan sepi. Pelukanmu tak pernah terhapuskan. Dan cintamu...

Takdir

Aku bersujud di antara doa dan harapan. Hingga gigil malam mengacau fikiran. Resah berkecamuk dalam dada. Sesaat jantung berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Mencoba berdiri dan melangkah, namun tertahan oleh rindu. Ya... Kita dua beda yang menyatu. Meyakinkan jarak dengan hati. Memberanikan batin dalam diri. Percaya garisan takdir tidaklah semu. Hanya sebatas permainan waktu. Abelqiz, 160518

Bunga Tidur Semalam

Aku pernah bermain hati, namun tidak dengan api. Aku pernah menjadi pemburu, namun tidak membunuh. Jatuh, bangun, sakit, serta bahagia pernah kurasa. Namun tidak untuk saat ini.... Merasa bahagia bersamaan dengan sedih. Merasa suka bersamaan dengan duka. Memang semesta sering bercanda. Jika memang ditakdirkan bersama, mengapa ada jarak yang membuat luka? Jika memang hanya sesaat, mengapa teramat manis dirasa? Logika dan cinta itu berbeda, namun jika digabungkan menjadi cerita. Cerita tentang aku dan kamu. Yang menjadi satu namun tak menyatu. ____________________________________________ Kadang rindu terlihat mudah, Tuan. Jikalau kita berpeluk dalam jarak, tidaklah mungkin kita menjauh. Sedetik merasa dekat, detik berikutnya berkata lain. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Memimpikan hadirmu dalam harap. Tak hanya sesaat, namun selamanya. Kemudian terbangun, dan menyadari bahwa cinta hanyalah bunga tidur semalam...

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...

My Little Angel - Part 13 (Cinta Tanpa Jeda)

          "Coba tebak, kenapa Tuhan membiarkan sayapmu patah, dan ngga berfungsi seperti sediakala lagi?" Pangeran Kegelapan berkata sambil menahan senyum. Peri Kecil mengernyit, "Di kutuk kali!"Ucapnya ketus. "Dih gitu." Pangeran Kegelapan tertawa terbahak-bahak. Peri Kecil kesal, perasaannya sedang campur aduk, namun malah di tertawakan seperti itu, "Berisik! Aku mau sendiri, ngga usah ganggu!!". Peri Kecil menghentakkan kakinya. Pangeran Kegelapan menyentuh sayap Peri Kecil dengan lembut, "Tuhan membiarkan sayapmu patah seperti ini, karena Tuhan tau, aku akan menemani gelapmu, kemudian membiarkanmu menikmati dinginnya langit bersamaku." Tanpa meminta persetujuan, Pangeran Kegelapan merengkuh Peri Kecil ke dalam pelukan, kemudian membawanya terbang mengelilingi gelapnya malam.           Peri Kecil terenyuh, amarah yang ia rasakan perlahan mereda, tergantikan oleh hawa dinginnya malam yang kemudian menghangat karena pelukan Pangeran...

Tentang Hati Yang Terluka

Ah... Sudah berapa lama buku ini tertutup? Bukan karena tidak ingin membukanya lagi. Namun terlalu banyak keindahan yang tertuang dalam kehidupan di dunia fana. Lalu, mengapa sekarang engkau buka kembali? Ya... Karena kefanaan hanyalah sementara. Tidak ada yang kekal dan abadi. Sebentar saja aku larut dalam kebahagiaan, yang seharusnya aku tau, semuanya hanyalah sementara. Karena yang selamanya hanya Allah SWT bukan? Sejauh apa aku melangkah dalam kesesatan, sejauh apa aku berenang dalam keabadian sesaat, sekali lagi, Allah tidak pernah tidur. Dia melihat apa yang tidak kita lihat. Mendengar apa yang tidak kita dengar. Dan merasakan apa yang belum kita rasakan. Sesempurna itu... Namun akupun masih lalai untuk selalu bersujud di hadapan-Nya. Aku berkata, aku tak mampu hidup tanpa-Nya. Dan Ia membenarkan hal itu. Membenarkan bahwa aku tersesat terlalu jauh selama ini. Menarikku kembali ke jalan-Nya, menarik kembali peri kecil yang terluka beberapa tahun yang lalu. Yang tak pe...