Langsung ke konten utama

Psoriasis

Ada yang tau tentang Psoriasis? Mungkin jarang. Saya pribadi juga baru denger setelah di diagnosa mengidap penyakit tersebut.
Pertama kali check dokter, tes lab, dsb. Lalu didiagnosa mengidap Psoriasis, dalam hati langsung berfikir, kok bisa? Awal mulanya karena apa? Dan gimana?

Konsultasi dengan beberapa dokter. Ada yang bilang karena cuaca, autoimun, dsb. Tapi kenapa baru ketahuan sekarang?
Dulu belum terlihat gejala-gejala Psoriasis? Baru terlihat gejala tersebut saat saya menginjak usia 21 Tahun.

Pertama kali timbul di punggung tangan. Rasanya mau nangis. Kepikiran takut kena herpes, tapi ngga berani ke Dokter. Saat itu berbarengan dengan DB, suster yang merawat saya saat itu menyuntikkan cairan untuk imun saya yang turun drastis. Dan dua hari kemudian, bercak alergi saya menghilang. Masih ngga kepikiran buat check ke Dokter. Hanya berfikir, mungkin itu efek DB kemarin.

Setahun kemudian, bercaknya timbul lagi. Saat itu saya sedang pergi ke Pantai Sawarna. Dan teman-teman saya mengira, saya alergi dengan cuaca pantai yang panas dan lembab. Tanpa memeriksakan diri ke Dokter (lagi), saya hanya mengoleskan krim alergi yang biasa saya pakai.

Progres untuk sembuhnya lumayan lama, dan selalu kambuh setiap terkena panas (perkiraan sendiri). 2 bulan baru hilang total. Saat itu usia saya 22 Tahun. Selebihnya, sering terlihat ruam kemerahan di kulit wajah, namun 2 minggu kemudian menghilang. Walau beberapa hari kemudian akan timbul kembali. Begitu terus.

Saat saya menginjak usia 23 Tahun, alergi tersebut datang kembali. Dan efeknya di luar dugaan saya. Lebih mengerikan. Selain punggung tangan saya, lengan, leher belakang, dan wajah pun penuh dengan lapisan kulit yang menebal dan berwarna merah. Terlihat seperti sisik yang berlapis. Panas, perih, gatal, keras, ah entah bagaimana lagi mendeskripsikan yang saya rasakan. Rasanya mau nangis. Karena mendadak semua bagian tubuh yang menebal lapisan kulitnya perlahan membengkak dan merah seperti terbakar. Like a Monster. :)

Karena sudah terlalu mengerikan, saya putuskan untuk memeriksakan diri ke Dokter. Check darah, ke dokter spesialis kulit, dan kemudian ke dokter spesialis alergi. Pertama kali dokter spesialis kulit menjelaskan, bahwa saya mengidap Psoriasis. Dimana penyakit tersebut akan aktif jika saya mengalami stres yang berlebih atau terlalu banyak aktifitas fisik yang menyebabkan kontak langsung terhadap sinar matahari. Dan penyebab utamanya adalah kelainan sistem imun di dalam tubuh saya atau biasa disebut autoimunitas. To the point, dokter tersebut bilang, bahwa penyakit ini tidak bisa sembuh. Sekalipun bisa, persentasenya hanya 1%. :') Tidak ada obat yang menyembuhkan, semua obat hanya mencegah dan mengurangi datangnya alergi tersebut.

Lalu, apa yang terjadi pada diri saya? Saya menjadi lebih drop. Satu spot yang terkena alergi, bisa sembuh berbulan-bulan. Satu atau dua bulan belum jadi jaminan alergi tersebut hilang dari tubuh saya. Sedih? SANGAT. Stres? APALAGI. Mau nangis? MAU MENGHILANG!

Setiap alergi kambuh, bagian yang terkena alergi pun semakin lebar. Saat ini sudah mulai hinggap di punggung telapak kaki. Dengan sebelumnya hanya ada di wajah bagian pipi dan hidung, sekarang sudah meluas nyaris 90%. rasanya malu bertemu orang-orang. Walau kadang mencoba untuk cuek aja. Ngga mau mikirin gimana orang-orang di luar sana yang mendadak ngeliatin karena wajah saya yang lebam dan memerah seperti kepiting. Belum lagi kulit yang terlihat menebal dan mengeras lalu terkelupas.

Satu hal yang perlu di tanamkan di benak masyarakat umum. Psoriasis bukan penyakit menular.  Pasti banyak di luar sana yang merasa diasingkan karena penyakit ini sudah menjamah 90% seluruh bagian tubuhnya (kemungkinan saya pun akan seperti ini jika saya tidak bisa mengontrol pikiran saya). Dan merasa malu untuk bertemu orang luar. Tapi percayalah, Tuhan selalu memberikan kesembuhan apa pun penyakitnya dan bagaimana pun caranya

Sejujurnya rasa percaya diri saya menurun 80% setiap penyakit ini sedang aktif. Namun, saya harus terus menjalani aktifitas bukan? Pekerjaan saya menuntut untuk bersosialisasi dengan orang luar setiap harinya, tidak memberikan tolerir untuk turunnya rasa kepercayaan diri ini. Saya yakin, ada maksud lain yang Allah rencanakan dengan apa yang terjadi pada saya selama ini.

:)



-A- 120914

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...