Langkah-langkah kecil tercipta setiap kali peri kecil menjejakkan
kakinya.
Gemuruh terdengar memekakan gendang telinga saat bersahutan dengan kilatan petir.
Peri kecil berjalan mengikuti alur sungai yang ada di sampingnya.
Entah ingin pergi kemana.
Yang penting ia pergi menjauh dari kelamnya hidup.
Peri kecil menengok sekali lagi ke balik punggungnya.
Ya... Jantungnya tak lagi utuh.
Tersisa kepingan-kepingan kecil yang bisa di hancurkan hanya dengan sekali sentuh.
Kembali ia telusuri jalan di pinggir sungai itu.
Aliran air terdengar bagai nyanyian kematian untuknya.
Seakan memanggilnya untuk segera menghancurkan apa yang sudah semestinya hancur.
Tubuhnya. Hidupnya. Perasaannya.
Tak ada yang layak untuk dipertahankan lagi.
Cicit burung mengiringi setiap langkahnya.
Peri kecil hanya bisa merenung, mengharap datangnya sang pangeran yang selalu hadir di sela mimpi.
Pangeran yang menjaganya. Bahkan dapat menyatukan kembali kepingan hati yang mulai berserakan.
Peri kecil melantunkan doa dalam perjalanannya.
Dan saat itulah ia melihat cahaya dihadapannya.
Sangat terang. Sampai ia tak mampu untuk menantang kilaunya.
_A_100711_
Gemuruh terdengar memekakan gendang telinga saat bersahutan dengan kilatan petir.
Peri kecil berjalan mengikuti alur sungai yang ada di sampingnya.
Entah ingin pergi kemana.
Yang penting ia pergi menjauh dari kelamnya hidup.
Peri kecil menengok sekali lagi ke balik punggungnya.
"Seandainya aku tau apa takdir hidupku. Pasti aku akan merubah jalan yang ada sesuai dengan mauku. Tapi sayang, sang penguasa kegelapaan tak pernah sedikitpun berniat 'tuk memberikan buku takdirku. Ahh..."Peri kecil menunduk lemah. Ia rasakan perih yang sangat di jantungnya.
Ya... Jantungnya tak lagi utuh.
Tersisa kepingan-kepingan kecil yang bisa di hancurkan hanya dengan sekali sentuh.
Kembali ia telusuri jalan di pinggir sungai itu.
Aliran air terdengar bagai nyanyian kematian untuknya.
Seakan memanggilnya untuk segera menghancurkan apa yang sudah semestinya hancur.
Tubuhnya. Hidupnya. Perasaannya.
Tak ada yang layak untuk dipertahankan lagi.
Cicit burung mengiringi setiap langkahnya.
Peri kecil hanya bisa merenung, mengharap datangnya sang pangeran yang selalu hadir di sela mimpi.
Pangeran yang menjaganya. Bahkan dapat menyatukan kembali kepingan hati yang mulai berserakan.
"Jika memang aku tak lagi berguna. Ambillah aku secepatnya. Tapi jikalau sang pangeran memang nyata, tak hanya tinggal dalam mimpiku. Biarkanlah aku tetap bertahan sampai ku temukan dia."
Peri kecil melantunkan doa dalam perjalanannya.
Dan saat itulah ia melihat cahaya dihadapannya.
Sangat terang. Sampai ia tak mampu untuk menantang kilaunya.
_A_100711_
Komentar
Posting Komentar