Langsung ke konten utama

Kicauan Kata

"Hari ini aku menutup mata untuk hidup.
Menutup hati akan rasa.
Menutup mulut untuk bicara.
Hadapi dunia hanya dengan senyum, tanpa kata."


Menjalani hidup tak semudah membalik telapak tangan.
Sekali berputar bisa sesuai dengan kehendak.
Rumit.
Andai kata bisa memilih, dan meminta untuk tak pernah ada.

Sering kali dewasa di jadikan pilihan.
Lambat laun apa yang orang dewasa hadapi, akan kita hadapi juga.
Sesulit dan sejauh apa kita mampu menghadapi masalah?

Hidup ini seharusnya simpel.
Kalau suka dilakukan, kalau tidak suka ditinggalkan.
Dan tentang kepahitan, mungkin tak pernah terasa jika manis bisa dikecap.
Lebih mudah mana?
Membunuh bahagia atau membunuh derita?
Jikalau keduanya melangkah bersama, mungkin derita bisa terbunuh bahagia.

Tak melulu tentang cinta.
Tak melulu tentang derita.

Jika manusia tak ada yang sempurna, mungkin hanya Tuhan yang kuasa.
Lalu, bagaimana merangkai cerita?
Jika tinta tak bernyawa menari dengan nestapa.
Tragis. Ironis. Miris.

Banyak kata terpendam bersamaan dengan lebur hati.
Mencintainya bersamaan dengan cemas mimpi.
Mengapa sulit?
Tak sulit jika bisa bersama.
Tak sulit jika bisa memahami.

Aku mencintainya, Tuhan.
Tak perlu sesulit ini.
Biarkan dia memintal jemari bersamaku dalam hangat peluk-Mu.
Bersama. Satu arah. Tanpa asa.
Karena bersama dan hangat peluknya seperti nafas.

Mencintainya tanpa lelah.
Dan permudahlah, Tuhan.


-A- 120514

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...