"Hari ini aku menutup mata untuk hidup.
Menutup hati akan rasa.
Menutup mulut untuk bicara.
Hadapi dunia hanya dengan senyum, tanpa kata."
Menjalani hidup tak semudah membalik telapak tangan.
Sekali berputar bisa sesuai dengan kehendak.
Rumit.
Andai kata bisa memilih, dan meminta untuk tak pernah ada.
Sering kali dewasa di jadikan pilihan.
Lambat laun apa yang orang dewasa hadapi, akan kita hadapi juga.
Sesulit dan sejauh apa kita mampu menghadapi masalah?
Hidup ini seharusnya simpel.
Kalau suka dilakukan, kalau tidak suka ditinggalkan.
Dan tentang kepahitan, mungkin tak pernah terasa jika manis bisa dikecap.
Lebih mudah mana?
Membunuh bahagia atau membunuh derita?
Jikalau keduanya melangkah bersama, mungkin derita bisa terbunuh bahagia.
Tak melulu tentang cinta.
Tak melulu tentang derita.
Jika manusia tak ada yang sempurna, mungkin hanya Tuhan yang kuasa.
Lalu, bagaimana merangkai cerita?
Jika tinta tak bernyawa menari dengan nestapa.
Tragis. Ironis. Miris.
Banyak kata terpendam bersamaan dengan lebur hati.
Mencintainya bersamaan dengan cemas mimpi.
Mengapa sulit?
Tak sulit jika bisa bersama.
Tak sulit jika bisa memahami.
Aku mencintainya, Tuhan.
Tak perlu sesulit ini.
Biarkan dia memintal jemari bersamaku dalam hangat peluk-Mu.
Bersama. Satu arah. Tanpa asa.
Karena bersama dan hangat peluknya seperti nafas.
Mencintainya tanpa lelah.
Dan permudahlah, Tuhan.
-A- 120514
Menutup hati akan rasa.
Menutup mulut untuk bicara.
Hadapi dunia hanya dengan senyum, tanpa kata."
Menjalani hidup tak semudah membalik telapak tangan.
Sekali berputar bisa sesuai dengan kehendak.
Rumit.
Andai kata bisa memilih, dan meminta untuk tak pernah ada.
Sering kali dewasa di jadikan pilihan.
Lambat laun apa yang orang dewasa hadapi, akan kita hadapi juga.
Sesulit dan sejauh apa kita mampu menghadapi masalah?
Hidup ini seharusnya simpel.
Kalau suka dilakukan, kalau tidak suka ditinggalkan.
Dan tentang kepahitan, mungkin tak pernah terasa jika manis bisa dikecap.
Lebih mudah mana?
Membunuh bahagia atau membunuh derita?
Jikalau keduanya melangkah bersama, mungkin derita bisa terbunuh bahagia.
Tak melulu tentang cinta.
Tak melulu tentang derita.
Jika manusia tak ada yang sempurna, mungkin hanya Tuhan yang kuasa.
Lalu, bagaimana merangkai cerita?
Jika tinta tak bernyawa menari dengan nestapa.
Tragis. Ironis. Miris.
Banyak kata terpendam bersamaan dengan lebur hati.
Mencintainya bersamaan dengan cemas mimpi.
Mengapa sulit?
Tak sulit jika bisa bersama.
Tak sulit jika bisa memahami.
Aku mencintainya, Tuhan.
Tak perlu sesulit ini.
Biarkan dia memintal jemari bersamaku dalam hangat peluk-Mu.
Bersama. Satu arah. Tanpa asa.
Karena bersama dan hangat peluknya seperti nafas.
Mencintainya tanpa lelah.
Dan permudahlah, Tuhan.
-A- 120514
Komentar
Posting Komentar