Langsung ke konten utama

Lima April

Ibu...
Besok usiamu bertambah.
Namun besok juga harimu berkurang.
Waktu berjalan tanpa bisa dikendalikan.
Gadis kecilmu sudah semakin dewasa,
Sudah tak lagi menangis meminta susu.
Tak lagi bergelayut manja di pangkuanmu.

Ibu...
Walaupun kini aku sudah dewasa, namun aku tetap gadis kecilmu.
Yang senantiasa merengek saat engkau tak menemani tidur.
Yang masih ketakutan jika lampu dimatikan saat terlelap.
Yang tetap meringkuk ketakutan disisimu saat petir bergemuruh.

Ibu...
Aku tau kesedihanmu semakin jelas terlihat.
Aku tau engkau membayangkan saat dimana engkau tak lagi ada disisiku.
Tak lagi menemani tidurku.
Tak lagi memarahiku.
Tak lagi menatapku sinis saat aku mencoba membantah setiap tutur katamu.
Aku membaca jelas kekhawatiranmu itu, Bu.

Ibu...
Saat engkau menangis di malam itu, di tengah gelapnya malam.
Dan sesaat kau bertanya padaku, "Apa kamu akan menangis seperti ini saat ibu tak lagi sanggup bernafas? Apa kamu akan merasa kesepian?"
Dan malam itu, seluruh tubuhku bergetar hebat.
Membuat fisikku rapuh.
Dan seperti biasa, tanpa berkata aku hanya duduk diam.
Menatapmu lirih.
Pedih.
Apa ibu merasa aku tak menyayangimu, Bu?
Perih di setiap detak jantungku tak berkurang sampai saat ini.
Aku menangis dalam setiap denyut nadiku, Bu.

Ibu...
Mungkin aku belum mampu membuatmu tersenyum.
Mungkin 80% hadirku hanya ciptakan perih di lubuk hatimu.
Namun, aku menyayangimu...
Dan percayalah, Bu.
Aku takkan bisa sekuat apa yang aku katakan kepada dia yang ku sayang.
Takkan pernah bisa....

Untuk hari esokmu,
di usiamu yang ke-63.
Tak henti doa kupanjatkan dalam setiap tarikan nafasku.
Untukmu, Ibu.


With Love
Your Lil Angel


-A- H-1 040414

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...