Cahaya Sore :
Peri Kecil :
Cahaya Sore :
Peri Kecil :
Cahaya Sore :
Peri Kecil :
Cahaya Sore :
Peri Kecil :
Cahaya Sore :
Peri Kecil :
Cahaya Sore :
Peri Kecil :
Cahaya Sore :
Sayang, ketahui tiap pagi yang aku cari bukan apapun selain kamu.
Begitulah pagi bercerita pada diriku, tak lagi remah roti dan secangkir kopi, hangatmu kini.
Maka aku selalu menyukai pagi, hangatmu tenangkanku dari gigil malam dan luka mimpi yang sepi.
Peri Kecil :
Sayang, andai waktu bisa dihentikan, aku ingin sekejap menjeda waktu. Membiarkanku menikmati setiap lekuk wajahmu, menyimpan dalam memory ingatanku, dan menyimpannya rapat.
Dikala rindu menghujam, fikiranku sudah terpenuhi olehmu.
Cahaya Sore :
Beberapa sepi berkata pada rindu, tak selalu jingga sesorean itu, memelukmu jauh lebih sendu daripadanya.
Kadang, gemintang malam tersenyum melihat sepi. Tak ada kata hanya bait rindu yang memeluk nyata hati dan semangatku.
Peri Kecil :
Tak ada kata yang terucap selain alunan rindu yang menari dalam dinginnya malam.
Membuatmu membeku dan membiarkanku memelukmu dalam hening. Seperti itulah caraku mencintaimu.
Cahaya Sore :
Tak ingin sepi. Tak mau malammu muram, Nona. Tanpa paham dan tanpa puluhan rindu yang kau makamkan.
Pada bola matamu, Nona. Ikutilah kemana batas rindu mampu kau lihat, kerap sepi yang menjelma hilang mampu terhempas rasa.
Peri Kecil :
Aku mencintaimu, Tuan. Bertekuk lutut dalam buaian katamu. Tak berdaya ditengah alunan syair manismu.
Berselimut mimpi, harap kuletakkan di denyut nadimu. Membuncahkan darah segar yang meluap menerjang kelam.
Seputih kapas cintamu membalut luka di hati. Menyisakan perih yang terobati kecupan mesra yang kau daratkan di kening. Manis.
Cahaya Sore :
Tidakkah kau rindu gemerlap malam itu, Nona? Tengah kau debarkan dadaku dengan ribuan kata dari siku hatimu.
Tak lagi aku menapaki malam tanpa rinai sapa lembut beberapa lembar daun biasanya. Kutinggalkan remah sepi pada daun-daun jendela kamarku.
Karena mencintaimu Nona, sepinya menenangkanku dan dinginnya menggigilkan hatiku. Rindu.
Memelukmu pada tiap derai hujan, hangatkanku bahwa malam tak selalu gigil.
Peri Kecil :
Tuan, lihatlah. Aku bersujud meminta-Nya untuk menjadikanmu seorang milikku. Menutup mata hatimu terhadap hawa lainnya, dan membiarkanmu berada tepat disisiku.
Cahaya Sore :
Mencintaimu, tak ingin seperti musim semi. Yang hanya pada musimnya saja dia berbunga.
Maka, aku mencintai sebagai seseorang yang suka menyendiri dalam tiap lekuk hatiku.
Peri Kecil :
Cinta itu racun, Tuan. Bisanya membutakan mata. Membuaikan angan. Menyesatkan raga.
Cahaya Sore :
Beberapa malam mengelukan kesepian, tengah kau tiupkan ribuan gemintang pada tiap lelah malamku.
Nona, biarkanmu tetap menempatinya. Ribuan puisi mendoakanmu pada sisa waktu-waktu yang sepi.
Nona, tetaplah disini. Sepi... tak ada siapapun. Hanya ada kamu dan hangatnya rindumu.
Peri Kecil :
Aku tetap disini, Tuan. Dan izinkanku membacakan dongeng. Dimana kau dan aku menjadi raja dan ratunya.
Angin malam ini tak baik untukmu. Namun jangan kau benci. Coba dengarkan. Sayupnya menghantarkan rinduku kepadamu.
Cahaya Sore :
Nona, tak hanya gemintang yang mulai tersenyum. Karena aku dan kamu saling merindu.
About 26 Jan 2014
~A~ 25 Feb 2014 . H-1
Komentar
Posting Komentar