Langsung ke konten utama

Satu

Cerita ini takkan pernah selesai,
disaat aku bersamamu atau bersamanya.
Tangis ini takkan pernah habis,
disaat aku bersamamu atau bersamanya.

Seperti itu kah?
Mungkin engkau takkan pernah paham maksud hatiku.
Ratusan rasa kecewa aku ungkapkan,
Puluhan kata benci aku ucapkan.
Tapi, apa tanggapanmu?
Hanya amarah yang dapat kau rasakan.
Padahal, bukan itu yang aku inginkan.

Aku ingin kamu lebih memahami isi hatiku.
Tapi sedikitpun tak ada niatmu untuk hal itu.

Sakit? Perih?
Mungkin jauh dari yang kau rasakan.
Mengapa?
Karena apa yang aku lakukan merupakan bentuk kecewaku padamu.
Dan aku tau, kamu hanya bisa menyalahkan tanpa pernah mencoba untuk berfikir.

Salahkah jika aku merasa 'terbuang'?
Bukan... Bukan karena ucapanmu, melainkan sikapmu.

Salahkah jika aku ingin dijadikan 'ratu'? Walaupun hanya sesekali?
Tidak... Tidak ada yang salah dengan perhatianmu.

Tapi pernahkah kamu tau,
Hatiku sering menangis.
Menangis akan perlakuanmu yang tak pernah sekalipun engkau sadari amat sangat menyakitiku.

"Menyakiti apa? Kamu yang selalu menyakitiku!"
Sepertinya itu yang akan kamu lontarkan.
Ah... Sudahlah.
Tak perlu lagi kau tau, kenapa aku seperti ini.

Mungkin, kamu memang selalu benar.
Dan aku yang selalu membuangmu.

SATU.
Itu yang kamu inginkan.
Namun aku, hanya ingin INTROPEKSImu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...