Langsung ke konten utama

Antara Sayang, Cinta, dan Benci

Adakah yang tau arti mendalam dari ketiga kata di atas? Saya rasa tidak. Terlalu luas untuk mengungkapkan bagaimana, seperti apa, dan apa dari tiga kata tersebut.
Setiap orang punya filosofi masing-masing untuk menjabarkan kata SAYANG, CINTA dan BENCI.
Kata-kata hebat yang dapat memonopoli otak dan jiwa kita jika tidak didasari dengan IMAN.

Kadang aku berfikir, mengapa kita dapat mengucapkan kata sayang dan cinta itu hanya disaat kita sedang bahagia? Mengapa disaat kita kecewa, sedih, patah hati ataupun benci seolah-olah dua kata itu tidak pernah terucap dari bibir kita? Mengapa orang yang kita sayang bisa berubah menjadi orang yang kita benci? lalu buat apa ada kata CINTA dan SAYANG bila hanya dengan satu kata BENCI bisa membunuh kedua kata itu?
Ironiskah? Tragis? Atau apa?
Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti tentang semua itu.

"Aku mencintaimu... aku menginginkanmu... aku ingin bersamamu seumur hidupku," kata-kata yang selalu terucap disaat kita sedang dimabuk oleh cinta. Kalimat bualan yang sudah basi, tapi menjadi sangat sempurna jika cinta sudah merasuk.

"Aku membencimu! Aku nggak mau melihatmu lagi! Nggak usah mengusik hidupku atau menghubungiku lagi!" Apa penjelasan untuk kalimat ini? Kemana bualan-bualan yang pernah terucap disaat sedang jatuh cinta? Terabaikan begitu sajakah? Seolah-olah kita tak pernah merajuk atau memohon cinta kepada dia yang kita sayang yang telah berubah menjadi dia yang kita benci.

Itu memang hukum alam, tapi itu tidaklah manusiawi. Bahkan pasangan seorang suami-istri pun dapat terjebak oleh hinanya BENCI.
Siapa yang tau rencana DIA yang menciptakan dunia ini?
Tidak ada.

Dia yang kita sayang bisa berubah menjadi dia yang kita benci.
Dia yang kita benci bisa berubah menjadi dia yang kita sayang.
Sesimpel itukah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...