Langsung ke konten utama

In the quietness of the night



Hai kupu-kupu indah yang senantiasa terbang dan hinggap menghiasi tubuhku, tersenyumlah.... karena mulai saat ini aku menyadari akan diriku. Diriku yang hanyalah sebuah duri. Diriku yang hanya dapat melukai. Aku menyadari itu, dan tak akan ku biarkan kau terluka karena duriku lagi. Aku tau, kau makhluk sempurna yang diciptakan Allah dari seekor ulat yang menjijikan namun bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu indah nan sempurna. Lihatlah aku, kupastikan takkan ada lagi yang dapat menyentuhku. Karena duriku sudah lebih tajam dari sebelumnya.

Tak perlu lagi kau hinggapi aku, namun berkunjunglah walau hanya sekedar melihat. Tetaplah hinggap di mawarmu yang indah dan suci bak bidadari kahyangan. Bukan denganku yang bagaikan racun tak kasat mata. halus, namun menyakitkan.

Taukah kamu, bukan hanya saat ini saja aku menyadari bahwa akulah duri yang tak selayaknya menginginkanmu untuk hinggap ditangkaiku. Walaupun aku tau, tanpa tubuhku, takkan ada mawar yang dapat bertahan hidup. Namun akupun tau, takkan pernah kau merelakan waktu walau hanya sedetik saja untuk hinggap ditangkaiku dan mengabaikan bujuk rayu nan cantik dari mawar yang merekah sempurna tanpa celah.

Aku tersenyum, aku bahagia....
Bahagia jika kumelihat kau selalu setia hinggap di mawarmu.
Izinkan aku melihatmu, mengamatimu, dan memperhatikanmu.
Meskipun takkan pernah kau tau itu.

Aku hanyalah duri, walaupun menyakitkan, namun aku tau bahwa Yang Maha Kuasa tak pernah menciptakan sesuatu tanpa manfaat. Dan aku menanti datangnya waktu saat seluruh makhluk di dunia ini paham apalah guna dari sebuah DURI.
Duri yang kecil, terkadang halus, dan tipis. Namun saat tak sengaja kau menyentuhnya dan ia merasa tersakiti, darah segar akan menghiasi jemarimu....

_A_140811_

Komentar

  1. suka bacain prosa kamu! hmmmm... salam kenal ya.
    visit me here: http://syariefmustafa.blogspot.com/

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempadan Duka

Bertahan sekaligus berjuang tidaklah mudah. Mencoba berdiri tegak di tengah gemuruh ombak. Bertahan pada kapal yang sama, namun ternyata tak berdaya. Tak apa jika lelah, bukan untuk pindah arah, hanya agar sanggup melangkah. Terlalu berat memang jika sendiri, Carilah yang membersamai. Tanpa harus memaksa, karena semua bergerak mengikuti hati. Entah nantinya akan beriringan atau hanya akan mencari tujuan yang sama. Semua menjadi percuma jika tidak seirama. Bersimpuh dan berdoa, tetaplah yang utama. Karena kita, hanya hamba-Nya yang mencoba bertahan di dunia fana. ------ Tuan... Tak inginkah kau merengkuhku di sepanjang perjalanan hidupmu? Tak inginkah engkau meraihku untuk berada di relung hatimu? Kau biarkan aku tertusuk ribuan duri yang terbentang. Jika aku menjadi abu, itu bukan untuk kebahagiaanmu, agar duka mengikutimu tanpa jeda.  - Abelqiz, 150825    

Lelah

Entah sanggup bertahan dengan cara apa, atau sampai kapan. Semakin hari yang di rasa hanya kekosongan diri, dan perihnya hati. Hampa... Ternyata ratusan cinta tak sanggup menghapus sakit. Hanya ingin istirahat sejenak, namun dunia tak memberi satu helaan nafas pun untuk bahagia. Kenapa? Banyak tanya tak ada jawab. Banyak pengorbanan tak ada hasil. Banyak penantian tak ada kepastian. Mungkin suatu saat, jiwa ini akan pergi dengan sendirinya, diiringi belas kasih yang terurai dalam air mata.  _________________________________________________________________________________ Teruntuk jiwa... Jikalau lelah, beristirahatlah. Ikhlaskan yang dipinta, karena raga sudah tak mampu bertahan. Sejauh apa hidup kau inginkan? Jika tangis tak pernah usai, sakit tak pernah hilang. Karena, semua perhatian, terlalu palsu untuk dijadikan nyata.  - Abelqiz, 150920

Titik Terakhir

Peri Kecil : Jikalau engkau lelah dan memilih pergi, akankah kau tetap menikmati malam? Sedangkan tiap malammu dipenuhi akan diriku. Diriku yang selalu bersemayam dalam sisi gelapmu. Pangeran Kegelapan : Tidak ada yang bisa menghapusmu, baik dari ingatan, rasa, atau apapun itu. Kamu tetaplah kamu, dan tidak ada yang bisa menggantikan sosokmu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Peri Kecil : Aku takut rasa sakit ini akan menghapus dirimu, sampai akhirnya aku pun tahu, bahwa aku tak sanggup lagi melangkah sekalipun telah ditemani bayang gelapmu. Pangeran Kegelapan : Pecundang sejatilah yang merasa seperti itu, ada atau tidak ada diriku, kamu harus terus melangkah. Peri Kecil : Jika saja kau tau, terlalu sulit. Melihatmu dalam gelap, namun aku tak mampu merengkuh, kemudian peri lain hadir menyapa manis dirimu, menggantikan diriku dalam pelukmu. Ah.... Pangeran Kegelapan : Sekali lagi aku tegaskan, Peri. Aku hanya akan pergi jika kau pinta. Apa kau ingin aku pergi? Peri Keci...