Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Bayangan Semu

Tahun berulang menggulung hari. Menutup sepi perlahan yang terombang-ambing akan khayal semu. Gigilnya pilu menutup luka musim semi. Yang hadir tanpa diminta. Teronggok manis lilin kecil berjejer rapi. Diatas meja. Tanpa alas. Perlahan, setetes demi setetes lilin mencair sempurna. Mengaburkan harap dan doa yang terucap bersamaan dengan air mata. Bayangan memperjelas kondisi. Takkan pernah menjadi nyata. Hanya akan mengikuti. Hanya akan menemani. Tanpa perlu mewujudkan diri. Tawa lirih gadis kecil menghantui hari. Mengaburkan pandangan akan masa depan. Menutup kemungkinan akan masa lalu. Selalu seperti ini. Berdiam pada sisi yang tak pasti. Tak menentu. Langkah kaki tertahan sejenak. Mendendangkan nyanyian kematian. Kematian akan bayangan yang sempat nyata. Namun kembali menyatu bersama tanah. Bersama, tapi tak menyatu. -A- 140414

Lima April

Ibu... Besok usiamu bertambah. Namun besok juga harimu berkurang. Waktu berjalan tanpa bisa dikendalikan. Gadis kecilmu sudah semakin dewasa, Sudah tak lagi menangis meminta susu. Tak lagi bergelayut manja di pangkuanmu. Ibu... Walaupun kini aku sudah dewasa, namun aku tetap gadis kecilmu. Yang senantiasa merengek saat engkau tak menemani tidur. Yang masih ketakutan jika lampu dimatikan saat terlelap. Yang tetap meringkuk ketakutan disisimu saat petir bergemuruh. Ibu... Aku tau kesedihanmu semakin jelas terlihat. Aku tau engkau membayangkan saat dimana engkau tak lagi ada disisiku. Tak lagi menemani tidurku. Tak lagi memarahiku. Tak lagi menatapku sinis saat aku mencoba membantah setiap tutur katamu. Aku membaca jelas kekhawatiranmu itu, Bu. Ibu... Saat engkau menangis di malam itu, di tengah gelapnya malam. Dan sesaat kau bertanya padaku, "Apa kamu akan menangis seperti ini saat ibu tak lagi sanggup bernafas? Apa kamu akan merasa kesepian?" Dan malam...