Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Sendiri (Hanya Tangis)

Peri kecil membuka buku harian yang telah usang termakan usia. Sudah lama ia tidak mencurahkan apa yang dirasakan. Terlalu banyak hal yang absurd, yang sulit untuk di ungkapkan, bahkan sekedar lewat tulisan. Pensil ditangannya hanya ia mainkan saja,tapi tetap tidak mencoretkan apapun dikertas berdebu itu. Banyak hal yang terjadi, dari bahagia, sampai yang menyayat hati, namun tetap... semuanya tak dapat terucapkan. 'Brakk!' Peri kecil melempar buku hariannya keluar jendela. "Bercerita dengan benda mati saja aku tak mampu." Ia tertawa sinis. Perlahan ia berjalan menjauh dari cahaya sore itu. Mendekati gelap yang selalu menemani harinya. Seperti tak bertulang, ia terjerembab di sudut ruang gelap kamarnya. Menelungkup pasrah, tanpa ingin menatap apapun disekelilingnya. "Aku memang hanya sendiri. Sendiri. Tanpa siapa pun menemani. Hanya Tuhan, dan sayap patahku." Dalam diam, air mata menetes perlahan. Menghiasi pipi mungil peri kecil. Menemani setiap...

My Little Angel - Part 12 (Sayap Sayap Patah)

     "Ha? Semuanya masih kamu simpen? Suara kayak kaleng rombeng gitu. Astagaa. Apus ngga?!" Sekuat tenaga aku mencoba merampas ponsel pintar yang sedang dia mainkan di depanku. Bukannya kabur, dia malah menarik tubuhku dan memelukku erat.        "Suara kaleng rombengmu ini buat nemenin aku tidur. Udah jangan bawel." Kecupan sayang mendarat di bibirku. Aku terpaku. Tak bisa berkata lagi selain merengek manja.          Ya seperti itulah yang sering terjadi setiap ada perdebatan anatara aku dan dia. Diakhiri dengan pelukan, kecupan, atau bahkan disaat aku lagi marah-marah, tanpa banyak bicara dia hanya memelukku. Lalu mengusap manja puncak kepalaku. Manis. meskipun banyak perbedaan, namun sikapnya yang tak pernah menentang yang mampu membuatku meleleh. Bertekuk lutut oleh cintanya. ***       "Kamu ngga mau punya kekasih yang sempurna? Aku bahkan tak memiliki sayap seperti peri lainnya." Ucapku tempo hari s...

My Little Angel - Part 11

Mengerti yang perlu dimengerti. Memahami yang perlu dipahami. Pengulangan yang berulang. Terkadang kata yang terucap dalam diam, membakar logika. Membangkitkan amarah dan mengguncang emosi. Bernyanyi dalam sendu, tertawa dalam duka. ~ abelqiz ~  _________________________________________________________________________________         Beberapa kali bercermin pada cermin yang sama. Langkah kaki kecil dibelakang pun masih terdengar. Pelan. Hati-hati. Sosok mungil tersenyum di balik punggungku. Tepat disana. Senyum manis bercampur sakit terlukis sempurna. Peri kecil itu, membayangi hidupku setiap saat. Menertawakan bahagia yang terlintas sekilas dalam tidurku. Mimpi yang sama. Terus menerus menghantuiku.           Peri kecil itu tidak pernah mendekat. Hanya sekedar menatap. Namun aku tau. Dia ingin bebas. Mengurungnya dalam sisi tergelap di hidupku. Menahannya untuk tidak pernah berinteraksi dengan dunia. Karena dia p...

Psoriasis

Ada yang tau tentang Psoriasis? Mungkin jarang. Saya pribadi juga baru denger setelah di diagnosa mengidap penyakit tersebut. Pertama kali check dokter, tes lab, dsb. Lalu didiagnosa mengidap Psoriasis, dalam hati langsung berfikir, kok bisa? Awal mulanya karena apa? Dan gimana? Konsultasi dengan beberapa dokter. Ada yang bilang karena cuaca, autoimun, dsb. Tapi kenapa baru ketahuan sekarang? Dulu belum terlihat gejala-gejala Psoriasis? Baru terlihat gejala tersebut saat saya menginjak usia 21 Tahun. Pertama kali timbul di punggung tangan. Rasanya mau nangis. Kepikiran takut kena herpes, tapi ngga berani ke Dokter. Saat itu berbarengan dengan DB, suster yang merawat saya saat itu menyuntikkan cairan untuk imun saya yang turun drastis. Dan dua hari kemudian, bercak alergi saya menghilang. Masih ngga kepikiran buat check ke Dokter. Hanya berfikir, mungkin itu efek DB kemarin. Setahun kemudian, bercaknya timbul lagi. Saat itu saya sedang pergi ke Pantai Sawarna. Dan teman-teman sa...

Topeng Berikutnya

Peri kecil menutup album yang telah berdebu. Perlahan air mata menetes tak terhenti. Sakit dan perih membakar relung hatinya. Ada apa? Kenapa? Hati kecilnya pun tak mampu menjawab. Ada luka yang tergores kembali. Ada perih yang terbuka perlahan. Ada lubang yang tak berhasil tertutup sempurna. Namun karena apa? Peri kecil selalu mampu membuat semua orang iri. Kehidupannya. Percintaannya. Kebahagiaannya. Semuanya. Tapi tak ada satupun yang tau, apa yang sebenarnya ia rasakan. Dirinya sendiripun tak pernah tau, topeng yang mana yang sedang ia mainkan. Peri kecil berlutut, merunduk, dan mencengkram erat tepat di jantungnya. Tak lebih sakit dari apa yang ia rasakan. Tak lebih perih dari apa yang ia terima. Tapi sekali lagi, ia tak pernah tau atas dasar apa ia merasakan itu semua. Yang ia tau, dia telah kalah. Kalah telak. Bukan karena aku tak bahagia, lalu aku terluka. Bukan karena aku terluka, lalu aku menangis. Hanya karena ini hidup, maka ak...

Ketika Pagi Berbalas Rindu

Peri Kecil  : Embun di pagi hari, bangunkan diri dari remah rindu. Cahaya Sore  : Pagi yang melulu rindu, tak ejakan waktu yang selalu tanpa nafasmu. Pilu. Peri Kecil  : Bukan Pagi Pertama. Diselimuti hangatmu dalam alunan melodi. Cahaya Sore  : Selalu tentang pagi, memanjakan sinar mentari kala hangat menyapa hati. Peri Kecil  : Merapal do'a dalam sunyi pagi. Merengkuh sukmamu, merintih rindu. Cahaya Sore  : Begitu sendu pagimu rindu. Memilikimu dalam setiap hembusan waktu. Peri Kecil  : Ketika pagi, mencumbu garis tegas wajahmu dalam deru nafas semalam. Cahaya Sore  : Seorang pemimpi senja menangisi indahnya pagi. Bahwa bahagia tak selalu tersenyum. Peri Kecil  : Tak melulu tentang cinta. Kali ini pagi mengecoh rindu dengan jarak. Rindu itu sepi, Tuan. Dan kali ini tentang rindu. Menatap cakrawala dalam diam. Memandang bulan yang sama dalam dua sisi. Menghangatkan hati dari ri...

Titik Tanpa Koma

Menatap cermin yang tertawa melihat pedih yang tersirat. Menggapai hati yang tertutup dan kemudian terbuka. Membaur bersama peluh diri yang menyayat. Membuka luka pedih yang tersapu oleh emosi. Menutup kembali jiwa yang sepi. Menyambut angin tanpa helai benang menutup raga. Mengakhiri senyum dengan pukulan telak di dada. -A-240614

My Little Angel (part 9) - recover

Langkah-langkah kecil tercipta setiap kali peri kecil menjejakkan kakinya. Gemuruh terdengar memekakan gendang telinga saat bersahutan dengan kilatan petir. Peri kecil berjalan mengikuti alur sungai yang ada di sampingnya. Entah ingin pergi kemana. Yang penting ia pergi menjauh dari kelamnya hidup. Peri kecil menengok sekali lagi ke balik punggungnya. " Seandainya aku tau apa takdir hidupku. Pasti aku akan merubah jalan yang ada sesuai dengan mauku. Tapi sayang, sang penguasa kegelapaan tak pernah sedikitpun berniat 'tuk memberikan buku takdirku. Ahh... " Peri kecil menunduk lemah. Ia rasakan perih yang sangat di jantungnya. Ya... Jantungnya tak lagi utuh. Tersisa kepingan-kepingan kecil yang bisa di hancurkan hanya dengan sekali sentuh. Kembali ia telusuri jalan di pinggir sungai itu. Aliran air terdengar bagai nyanyian kematian untuknya. Seakan memanggilnya untuk segera menghancurkan apa yang sudah semestinya hancur. Tubuhnya. Hidupnya. Perasa...

Kicauan Kata

"Hari ini aku menutup mata untuk hidup. Menutup hati akan rasa. Menutup mulut untuk bicara. Hadapi dunia hanya dengan senyum, tanpa kata." Menjalani hidup tak semudah membalik telapak tangan. Sekali berputar bisa sesuai dengan kehendak. Rumit. Andai kata bisa memilih, dan meminta untuk tak pernah ada. Sering kali dewasa di jadikan pilihan. Lambat laun apa yang orang dewasa hadapi, akan kita hadapi juga. Sesulit dan sejauh apa kita mampu menghadapi masalah? Hidup ini seharusnya simpel. Kalau suka dilakukan, kalau tidak suka ditinggalkan. Dan tentang kepahitan, mungkin tak pernah terasa jika manis bisa dikecap. Lebih mudah mana? Membunuh bahagia atau membunuh derita? Jikalau keduanya melangkah bersama, mungkin derita bisa terbunuh bahagia. Tak melulu tentang cinta. Tak melulu tentang derita. Jika manusia tak ada yang sempurna, mungkin hanya Tuhan yang kuasa. Lalu, bagaimana merangkai cerita? Jika tinta tak bernyawa menari dengan nestapa. Tragis. Ironi...

Bayangan Semu

Tahun berulang menggulung hari. Menutup sepi perlahan yang terombang-ambing akan khayal semu. Gigilnya pilu menutup luka musim semi. Yang hadir tanpa diminta. Teronggok manis lilin kecil berjejer rapi. Diatas meja. Tanpa alas. Perlahan, setetes demi setetes lilin mencair sempurna. Mengaburkan harap dan doa yang terucap bersamaan dengan air mata. Bayangan memperjelas kondisi. Takkan pernah menjadi nyata. Hanya akan mengikuti. Hanya akan menemani. Tanpa perlu mewujudkan diri. Tawa lirih gadis kecil menghantui hari. Mengaburkan pandangan akan masa depan. Menutup kemungkinan akan masa lalu. Selalu seperti ini. Berdiam pada sisi yang tak pasti. Tak menentu. Langkah kaki tertahan sejenak. Mendendangkan nyanyian kematian. Kematian akan bayangan yang sempat nyata. Namun kembali menyatu bersama tanah. Bersama, tapi tak menyatu. -A- 140414

Lima April

Ibu... Besok usiamu bertambah. Namun besok juga harimu berkurang. Waktu berjalan tanpa bisa dikendalikan. Gadis kecilmu sudah semakin dewasa, Sudah tak lagi menangis meminta susu. Tak lagi bergelayut manja di pangkuanmu. Ibu... Walaupun kini aku sudah dewasa, namun aku tetap gadis kecilmu. Yang senantiasa merengek saat engkau tak menemani tidur. Yang masih ketakutan jika lampu dimatikan saat terlelap. Yang tetap meringkuk ketakutan disisimu saat petir bergemuruh. Ibu... Aku tau kesedihanmu semakin jelas terlihat. Aku tau engkau membayangkan saat dimana engkau tak lagi ada disisiku. Tak lagi menemani tidurku. Tak lagi memarahiku. Tak lagi menatapku sinis saat aku mencoba membantah setiap tutur katamu. Aku membaca jelas kekhawatiranmu itu, Bu. Ibu... Saat engkau menangis di malam itu, di tengah gelapnya malam. Dan sesaat kau bertanya padaku, "Apa kamu akan menangis seperti ini saat ibu tak lagi sanggup bernafas? Apa kamu akan merasa kesepian?" Dan malam...

Tentang Dia - Merangkai Kata

A ku hanyalah abu yang tak menghitam pun memutih. D an langkahku tertahan dalam balutan sepi. I nikah takdir yang perlu kulalui? T ak pernah lelah kubersujud dalam untaian tasbih. Y akini hari berganti, bahagia menghampiri. A khiri sepi yang berselimut mimpi. P agi menyapa membungkus diri dalam lamunan. U dara dingin menyergap hati, merengkuh sukma. T anpa jeda aku meminta kasih. U ntuk hadir lebih cepat meminang raga. H ari ini aku melihatnya. A rti harap dan doa yang terjawab. D engan rangkaian tawa dan kata, kau hadir menghapus luka. M enatap syahdu tepat di lubuk jiwa. A ku terpaku oleh hadirnya dia. Aditya. -A- 240314

Ketika Cinta Bercerita (Cahaya Sore - Peri Kecil)

Cahaya Sore : Sayang, ketahui tiap pagi yang aku cari bukan apapun selain kamu. Begitulah pagi bercerita pada diriku, tak lagi remah roti dan secangkir kopi, hangatmu kini. Maka aku selalu menyukai pagi, hangatmu tenangkanku dari gigil malam dan luka mimpi yang sepi. Peri Kecil : Sayang, andai waktu bisa dihentikan, aku ingin sekejap menjeda waktu. Membiarkanku menikmati setiap lekuk wajahmu, menyimpan dalam memory ingatanku, dan menyimpannya rapat. Dikala rindu menghujam, fikiranku sudah terpenuhi olehmu. Cahaya Sore : Beberapa sepi berkata pada rindu, tak selalu jingga sesorean itu, memelukmu jauh lebih sendu daripadanya. Kadang, gemintang malam tersenyum melihat sepi. Tak ada kata hanya bait rindu yang memeluk nyata hati dan semangatku. Peri Kecil : Tak ada kata yang terucap selain alunan rindu yang menari dalam dinginnya malam. Membuatmu membeku dan membiarkanku memelukmu dalam hening. Seperti itulah caraku mencintaimu. Cahaya Sore : Tak ingin sepi...